Film Indonesia pertama yang saya tonton dengan serius adalah Kiamat Sudah Dekat (2003). Tidak di bioskop, tentunya, melainkan di televisi di suatu malam bulan Ramadhan. Film, ya, bukan serialnya. Karena kemudian, ada serial dengan judul dan plot cerita yang sama, pemeran beberapa tokohnya pun sama. Epic-nya, serial ini booming tidak kalah dengan film aslinya. Kalau diingat-ingat, sepertinya film ini adalah salah satu yang paling awal memberikan saya pelajaran hidup. Begini ceritanya.
Saya harus mengawalinya dengan mengulas sedikit plot cerita dari film KSD. Tokoh utama pria, bernama Fandi, jatuh cinta dengan tokoh utama wanita, bernama Sarah, yang merupakan anak dari tokoh utama pria lainnya, bernama Haji Romli. Sungguh biasa dan mudah ditebak, bahwa ayahanda dari Sarah adalah sosok penghalang jalan Fandi melampiaskan nafsunya. Juga begitu mudah ditebak, bahwa pada akhirnya Fandi berhasil bersama Sarah.
Ada tiga syarat yang diajukan Haji Romli kepada Fandi kalau mau meminang Sarah. Tidak salah, langsung meminang. Padahal niat Fandi, sebagaimana anak muda urban dan tajir mampus, pengennya macarin Sarah aja. Tapi, Haji Romli nggak mau kompromi sama tanggung jawabnya: anaknya harus sebisa mungkin dijauhkan dari perbuatan-perbuatan yang mendekati kemaksiatan, termasuk pacaran.
Syarat pertama, Fandi harus bisa sholat. Dikasih waktu dua minggu. Dites, lulus. Selanjutnya, harus bisa membaca Al-Qur'an. Dua minggu juga. Lulus. Didorong oleh rasa gengsi dan tidak terima (juga mungkin tidak menyangka bahwa Fandi segigih itu), Haji Romli berniat menggagalkan usaha Fandi dengan memberikan syarat ke-tiga yang--menurutnya sendiri--mustahil bisa dipenuhi. Fandi harus bisa menguasai ilmu ikhlas dalam tenggat waktu yang diberikan, dua minggu.
Mempelajari ilmu praktikal dan dituntut untuk menguasainya akan selalu lebih mudah bila dibandingkan dengan mempelajari ilmu-ilmu luhur, apalagi bila langsung dituntut menguasainya. Konon, para orang tua di Australia sana tidak khawatir kalau anak-anak mereka tidak dapat berhitung tambah-kurang di kelas 3 SD. Tapi mereka akan sangat meradang kalau si anak tidak bisa antre pada saat menunggu giliran mendapatkan jatah makan siang di kantin sekolahnya. Karena menurut mereka, hanya butuh waktu 1-2 tahun untuk menjadikan anaknya pandai berhitung. Tapi untuk bisa mengantre dengan tertib, satu siklus kehidupan pun belum tentu cukup untuk mengajarinya.
Saya baru menyadari bahwa semakin dewasa, persepsi kita sering menyederhanakan hal yang rumit dan memperumit hal yang sederhana. Ilmu ikhlas tidak sulit dipelajari! Setidaknya itu pikiran saya ketika masih kelas empat SD. Konteks yang saya bayangkan waktu itu adalah ketika saya harus menyumbangkan sebagian uang jajan saya untuk takziyah karena ada orang tua teman yang meninggal, atau untuk sumbangan lainnya. Bagi saya waktu itu, ikhlas adalah tidak memikirkan lagi uang jajan yang saya sumbangkan. Sesederhana itu.
Tapi halnya menjadi agak berbeda sekarang. Hampir lima belas tahun berlalu, saya menonton ulang film itu. Saya baru paham, syarat terakhir Haji Romli itu mustahil. Harus menguasai ilmu ikhlas dalam konteks itu adalah sebuah bendera merah. Hanya saja, Haji Romli terlalu pengecut untuk bilang tidak ke Fandi. Atau mungkin, ia enggan menghalangi niat baik dan usaha seseorang, karena ia percaya bahwa tiap orang berhak mendapat kesempatan yang sama untuk meraih cintanya? Jangan-jangan justru Haji Romli sangat humanis?
Menjadi ikhlas bukanlah semata-mata merelakan sesuatu yang tidak dapat kita miliki. Bukan pula berpasrah setelah berusaha sampai pada titik maksimal kita. Lebih dari itu, menjadi ikhlas pada tingkat tertinggi adalah dapat tetap tegar dan bahagia mengetahui sesuatu yang sebetulnya bisa menjadi milik kita harus jatuh ke tangan orang lain. Apalagi, sebabnya adalah hal yang di luar kuasa kita. Ikhlas adalah ketika kita meyakini sesuatu, tapi ternyata keyakinan itu tidak berbuah nyata. Bahwa ketika kita mengira hidup sudah begitu keras, tapi ternyata masih bisa memberikan tamparan yang lebih keras, saat itulah kita hanya harus ikhlas.
Saya harus mengawalinya dengan mengulas sedikit plot cerita dari film KSD. Tokoh utama pria, bernama Fandi, jatuh cinta dengan tokoh utama wanita, bernama Sarah, yang merupakan anak dari tokoh utama pria lainnya, bernama Haji Romli. Sungguh biasa dan mudah ditebak, bahwa ayahanda dari Sarah adalah sosok penghalang jalan Fandi melampiaskan nafsunya. Juga begitu mudah ditebak, bahwa pada akhirnya Fandi berhasil bersama Sarah.
Ada tiga syarat yang diajukan Haji Romli kepada Fandi kalau mau meminang Sarah. Tidak salah, langsung meminang. Padahal niat Fandi, sebagaimana anak muda urban dan tajir mampus, pengennya macarin Sarah aja. Tapi, Haji Romli nggak mau kompromi sama tanggung jawabnya: anaknya harus sebisa mungkin dijauhkan dari perbuatan-perbuatan yang mendekati kemaksiatan, termasuk pacaran.
Syarat pertama, Fandi harus bisa sholat. Dikasih waktu dua minggu. Dites, lulus. Selanjutnya, harus bisa membaca Al-Qur'an. Dua minggu juga. Lulus. Didorong oleh rasa gengsi dan tidak terima (juga mungkin tidak menyangka bahwa Fandi segigih itu), Haji Romli berniat menggagalkan usaha Fandi dengan memberikan syarat ke-tiga yang--menurutnya sendiri--mustahil bisa dipenuhi. Fandi harus bisa menguasai ilmu ikhlas dalam tenggat waktu yang diberikan, dua minggu.
Mempelajari ilmu praktikal dan dituntut untuk menguasainya akan selalu lebih mudah bila dibandingkan dengan mempelajari ilmu-ilmu luhur, apalagi bila langsung dituntut menguasainya. Konon, para orang tua di Australia sana tidak khawatir kalau anak-anak mereka tidak dapat berhitung tambah-kurang di kelas 3 SD. Tapi mereka akan sangat meradang kalau si anak tidak bisa antre pada saat menunggu giliran mendapatkan jatah makan siang di kantin sekolahnya. Karena menurut mereka, hanya butuh waktu 1-2 tahun untuk menjadikan anaknya pandai berhitung. Tapi untuk bisa mengantre dengan tertib, satu siklus kehidupan pun belum tentu cukup untuk mengajarinya.
Saya baru menyadari bahwa semakin dewasa, persepsi kita sering menyederhanakan hal yang rumit dan memperumit hal yang sederhana. Ilmu ikhlas tidak sulit dipelajari! Setidaknya itu pikiran saya ketika masih kelas empat SD. Konteks yang saya bayangkan waktu itu adalah ketika saya harus menyumbangkan sebagian uang jajan saya untuk takziyah karena ada orang tua teman yang meninggal, atau untuk sumbangan lainnya. Bagi saya waktu itu, ikhlas adalah tidak memikirkan lagi uang jajan yang saya sumbangkan. Sesederhana itu.
Tapi halnya menjadi agak berbeda sekarang. Hampir lima belas tahun berlalu, saya menonton ulang film itu. Saya baru paham, syarat terakhir Haji Romli itu mustahil. Harus menguasai ilmu ikhlas dalam konteks itu adalah sebuah bendera merah. Hanya saja, Haji Romli terlalu pengecut untuk bilang tidak ke Fandi. Atau mungkin, ia enggan menghalangi niat baik dan usaha seseorang, karena ia percaya bahwa tiap orang berhak mendapat kesempatan yang sama untuk meraih cintanya? Jangan-jangan justru Haji Romli sangat humanis?
Menjadi ikhlas bukanlah semata-mata merelakan sesuatu yang tidak dapat kita miliki. Bukan pula berpasrah setelah berusaha sampai pada titik maksimal kita. Lebih dari itu, menjadi ikhlas pada tingkat tertinggi adalah dapat tetap tegar dan bahagia mengetahui sesuatu yang sebetulnya bisa menjadi milik kita harus jatuh ke tangan orang lain. Apalagi, sebabnya adalah hal yang di luar kuasa kita. Ikhlas adalah ketika kita meyakini sesuatu, tapi ternyata keyakinan itu tidak berbuah nyata. Bahwa ketika kita mengira hidup sudah begitu keras, tapi ternyata masih bisa memberikan tamparan yang lebih keras, saat itulah kita hanya harus ikhlas.
Yogyakarta, 19 Maret 2017,
ketika baru dihempas dan harus belajar ikhlas.
Comments
Post a Comment