Beberapa dari kita lebih sering memilih memendam rapat-rapat apapun yang kita rasakan alih-alih menceritakannya pada orang lain, bukan karena kita enggan bercerita, bukan pula karena kita tidak percaya, tetapi mungkin karena kita sudah kadung nyaman merasakannya sendiri dan jika terpaksa harus menceritakannya ke orang lain, kita harus siap bahwa itu bukan lagi hanya milik kita, itu juga adalah milik orang lain walaupun mereka tidak turut merasa yang kita rasa. Beberapa dari kita lebih sering memilih untuk menyimpan yang kita pikir hanya kita yang dapat mengerti dan tidak usahlah bercerita pada orang lain, bukan karena kita malas bersosialisasi atau sekadar memulai interaksi, tapi karena kita telanjur nyaman dengan berbagai imajinasi yang kita rangkai sendiri di dalam alam pikir tanpa perlu repot membuat interpretasi dalam kata-kata, yang kadang justru salah dimengerti dan menghancurkan imajinasi-imajinasi yang telah dengan susah payah kita bentuk. Karena kita tahu, batas antara kha...
Judul di atas adalah sebuah Twit yang dikirimkan seorang teman. Sekilas terlihat seperti sebuah sambatan , mungkin emang iya si teman itu bermaksud sambat . Tapi kalau kalimat itu ditujukan ke gue, pasti gue akan terlibat percakapan yang oke dengan dia — setidaknya bagi gue. Mungkin karena satu kalimat itu bisa membawa gue kembali cukup jauh ke masa lalu, dan berakhir dengan gue menceritakan apa saja yang sudah gue alami. Paradoks tentang masa lalu: cerita-cerita tentangnya membangkitkan perasaan senang yang dulu kita alami, sekaligus sedih karena well, it is in the past. Surrender . Menurut gue itu satu-satunya clue tentang masa depan yang harus kita imani. Ey, gue nggak sedang bicara tentang iman tertentu ya. Menurut gue banyak orang yang kecele atas pikirannya sendiri. Banyak yang mikir bahwa masa depan sudah ada di sana, menanti kita menjemput seiring dengan waktu yang terus melaju. Seolah-olah kita — bersama dengan waktu — sedang berjalan ke tujuan. Padahal, nggak gitu...