Skip to main content

Posts

Tentang Lidah

Beberapa dari kita lebih sering memilih memendam rapat-rapat apapun yang kita rasakan alih-alih menceritakannya pada orang lain, bukan karena kita enggan bercerita, bukan pula karena kita tidak percaya, tetapi mungkin karena kita sudah kadung nyaman merasakannya sendiri dan jika terpaksa harus menceritakannya ke orang lain, kita harus siap bahwa itu bukan lagi hanya milik kita, itu juga adalah milik orang lain walaupun mereka tidak turut merasa yang kita rasa. Beberapa dari kita lebih sering memilih untuk menyimpan yang kita pikir hanya kita yang dapat mengerti dan tidak usahlah bercerita pada orang lain, bukan karena kita malas bersosialisasi atau sekadar memulai interaksi, tapi karena kita telanjur nyaman dengan berbagai imajinasi yang kita rangkai sendiri di dalam alam pikir tanpa perlu repot membuat interpretasi dalam kata-kata, yang kadang justru salah dimengerti dan menghancurkan imajinasi-imajinasi yang telah dengan susah payah kita bentuk. Karena kita tahu, batas antara kha...
Recent posts

Coba Aja Masa Depan Itu Ada Clue-nya

Judul di atas adalah sebuah Twit yang dikirimkan seorang teman. Sekilas terlihat seperti sebuah sambatan , mungkin emang iya si teman itu bermaksud sambat . Tapi kalau kalimat itu ditujukan ke gue, pasti gue akan terlibat percakapan yang oke dengan dia — setidaknya bagi gue. Mungkin karena satu kalimat itu bisa membawa gue kembali cukup jauh ke masa lalu, dan berakhir dengan gue menceritakan apa saja yang sudah gue alami. Paradoks tentang masa lalu: cerita-cerita tentangnya membangkitkan perasaan senang yang dulu kita alami, sekaligus sedih karena well, it is in the past. Surrender . Menurut gue itu satu-satunya clue tentang masa depan yang harus kita imani. Ey, gue nggak sedang bicara tentang iman tertentu ya. Menurut gue banyak orang yang kecele  atas pikirannya sendiri. Banyak yang mikir bahwa masa depan sudah ada di sana, menanti kita menjemput seiring dengan waktu yang terus melaju. Seolah-olah kita — bersama dengan waktu — sedang berjalan ke tujuan. Padahal, nggak gitu...

Pengendara yang Bikin Semrawut

Ini soal kepercayaan dan kesepakatan. Saya percaya bahwa jalan raya didesain untuk penggunaan kendaraan roda empat atau lebih. Kendaraan roda dua adalah inovasi setelah ditemukannya kendaraan roda empat. Jadi yang lahir adalah mobil dulu, baru sepeda motor. Tentu yang saya maksud dengan kendaraan adalah kendaraan bermotor. Jadi sepeda atau becak tidak masuk hitungan. Kenapa demikian? Karena, jauh lebih mudah melogikakan perilaku berkendara orang-orang yang menggunakan kendaraan roda empat atau lebih. Biar lebih singkat, kita ganti saja penyebutannya menjadi mobil, ya. Kalau Anda mengendarai mobil, Anda akan cenderung lebih bertanggung jawab. Kecuali Anda anaknya Ahmad Dhani (tidak usahlah sampai Ahmad Sahroni atau Hotman Paris, ketinggian Bos alias susah bayanginnya ) yang tidak begitu soal menghancurkan Lancer di jalan tol, Anda harus lebih mengasah rasa tanggung jawab dalam berkendara mobil. Tentunya, Anda tidak ingin mobil Anda nabrak sampai penyok atau bahkan sekadar...

Nobody Dies A Virgin

I happen to figure out that the biggest joker in this life is... life . Life always has a way, always finds a way to deceive us every time we think we figured it out. Let's think about it. There was a time when we thought we could already walk, dang! A stone stumbled. There was a time when we thought we could already ride bicycle; we fell down. There was a time when we thought we could already solve math; algebra, calculus, and trigonometry came around. There was a time when we were maturing too early in our early teens because of witnessing parents quarreled against each other; real responsibilities popped out in all sudden: bills, rent, etc. There was a time we thought we're ready to love and to be loved after all  shitty  puppy love stories and horrible heartbreak happened to us, we fall in love with people who simply doesn't want us. I think Kurt Cobain is right after all: Nobody dies a virgin; life fucks us all .

Tentang Mengikhlaskan

Film Indonesia pertama yang saya tonton dengan serius adalah Kiamat Sudah Dekat (2003). Tidak di bioskop, tentunya, melainkan di televisi di suatu malam bulan Ramadhan. Film, ya, bukan serialnya. Karena kemudian, ada serial dengan judul dan plot cerita yang sama, pemeran beberapa tokohnya pun sama. Epic-nya, serial ini booming tidak kalah dengan film aslinya. Kalau diingat-ingat, sepertinya film ini adalah salah satu yang paling awal memberikan saya pelajaran hidup. Begini ceritanya.

Pagi yang Dingin

Entah karena tidur terlambat atau bangun terlalu awal, pagi ini terasa dingin. Meriang, menggigil. Ada kerinduan terselip, menyesap lirih menambah pedih yang harus kurasa. Rindu itu milikku, tertujukan kepada dua seniman dengan karya-karya yang selalu berhasil menggetarkan hati. Rindu itu untuk mereka: Banda Neira. Tiap kali mendengar untaian lirik yang terbungkus dalam petikan gitar Ananda Badudu dan suara magis Rara Sekar, selalu ada harap yang diam-diam terucap dalam hati: semoga suatu saat nanti aku bisa melihat mereka berkumpul lagi. Sekedar melepaskan kerinduan: antara mereka, dipersembahkan untukkami. Sampai masa itu tiba, cukuplah batin ini selalu membisik,  " Terima kasih, Banda Neira. "

Kesalahan Pertama ... dan yang Paling Utama

Adalah jumawa!