Ini soal kepercayaan dan kesepakatan.
Saya percaya bahwa jalan raya didesain untuk penggunaan kendaraan roda empat atau lebih. Kendaraan roda dua adalah inovasi setelah ditemukannya kendaraan roda empat. Jadi yang lahir adalah mobil dulu, baru sepeda motor. Tentu yang saya maksud dengan kendaraan adalah kendaraan bermotor. Jadi sepeda atau becak tidak masuk hitungan.
Kenapa demikian?
Karena, jauh lebih mudah melogikakan perilaku berkendara orang-orang yang menggunakan kendaraan roda empat atau lebih. Biar lebih singkat, kita ganti saja penyebutannya menjadi mobil, ya. Kalau Anda mengendarai mobil, Anda akan cenderung lebih bertanggung jawab. Kecuali Anda anaknya Ahmad Dhani (tidak usahlah sampai Ahmad Sahroni atau Hotman Paris, ketinggian Bos alias susah bayanginnya) yang tidak begitu soal menghancurkan Lancer di jalan tol, Anda harus lebih mengasah rasa tanggung jawab dalam berkendara mobil.
Tentunya, Anda tidak ingin mobil Anda nabrak sampai penyok atau bahkan sekadar nyerempet hingga baret. Selain akan menimbulkan tambahan pengeluaran yang (biasanya) tidak dianggarkan untuk memperbaiki kerusakan di kendaraan Anda, Anda juga harus bertanggung jawab terhadap kerusakan kendaraan lain atau kesehatan pihak lain yang terlibat kecelakaan dengan Anda. Tambah lagi, kan, pengeluaran yang seharusnya bisa diinvestasikan di pasar modal. Omong-omong, apa kabar $BOLA ya?
Lalu, sebagaimana normalnya jalan pikir manusia untuk menghindari hal buruk, Anda akan berupaya sebisa mungkin untuk mencegahnya. Caranya? Taat aturan, tidak sradak-sruduk, dan tentu saja, menjadi lebih kalkulatif. Mau nyalip kendaraan di depan tidak asal ada celah langsung tancap gas, tapi diperhitungkan juga apakah jarak aman tersedia, apakah lebar jalan memungkinkan, apakah kendaraan Anda bisa betul-betul melampaui kecepatan kendaraan di depan. Bodi mobil yang rigid mengharuskan Anda untuk betul-betul yakin dalam bermanuver, sebab kalau ternyata kalkulasi Anda salah, Anda tidak bisa meliukkan mobil seperti jika Anda motoran.
Mari coba bandingkan dengan jika Anda berkendara sepeda motor. Singkatnya, mekanisme pengambilan keputusan ketika berkendara sepeda motor tidak serumit ketika berkendara mobil. Dimensi yang lebih kecil membuat orang merasa lebih mudah bermanuver dan mengisi celah-celah sempit di tengah kemacetan. Memang dipikirnya mengendarai sepeda motor berarti memiliki sifat seperti air yang harus selalu memenuhi wadah? Jalan raya kan ruang yang harus diatur, bukan wadah yang harus diisi. Saya tidak tahu berapa banyak pengendara motor yang mampu legowo mengakui bahwa kaum mereka lah sebetulnya kontributor terbesar kemacetan. Tentu saja ini klaim. Oh, tapi tenang saja, saya juga berkendara sepeda motor, kok, jadi ya sama saja tergabung dalam kaum itu.
Sampai di sini, Anda sudah membaca apa yang saya percayai. Dari sini, saya akan menawarkan Anda untuk bersepakat dengan kepercayaan saya.
Bahwa yang paling memperparah berbagai situasi dan kondisi ini semua adalah dua hal:
Pertama, di negeri indah yang banyak masalah ini, kesemrawutan di jalan raya "di-endorse" oleh peraturan legal formal. Jika ada kecelakaan, yang dipersalahkan adalah kendaraan yang "lebih besar".
Ke-dua, membeli sepeda motor di negeri agraris ini sangatlah mudah. Mungkin lebih mudah daripada mengurus KTP. Hal yang menggelikan adalah, Anda tidak harus bisa mengendarai sepeda motor untuk bisa mendapatkan surat izin mengemudi C.
Terakhir, hemat saya, kalau saja seluruh pengendara sepeda motor bisa mendapat kesempatan untuk berlalu lintas seperti mereka mengendarai mobil, minimal sampai mereka memiliki rasa tanggung jawab berkendara mobil dan menerapkannya dalam berkendara sepeda motor, saya percaya bahwa lalu lintas tidak akan sesemrawut hari-hari ini. Anda sepakat?
Comments
Post a Comment