Judul di atas adalah sebuah Twit yang dikirimkan seorang teman. Sekilas terlihat seperti sebuah sambatan, mungkin emang iya si teman itu bermaksud sambat.
Tapi kalau kalimat itu ditujukan ke gue, pasti gue akan terlibat percakapan yang oke dengan dia—setidaknya bagi gue. Mungkin karena satu kalimat itu bisa membawa gue kembali cukup jauh ke masa lalu, dan berakhir dengan gue menceritakan apa saja yang sudah gue alami. Paradoks tentang masa lalu: cerita-cerita tentangnya membangkitkan perasaan senang yang dulu kita alami, sekaligus sedih karena well, it is in the past.
Surrender. Menurut gue itu satu-satunya clue tentang masa depan yang harus kita imani. Ey, gue nggak sedang bicara tentang iman tertentu ya.
Menurut gue banyak orang yang kecele atas pikirannya sendiri. Banyak yang mikir bahwa masa depan sudah ada di sana, menanti kita menjemput seiring dengan waktu yang terus melaju. Seolah-olah kita—bersama dengan waktu—sedang berjalan ke tujuan. Padahal, nggak gitu. Masa depan juga adalah sesuatu yang dinamis. Dia nggak nunggu untuk terjadi, tapi terjadi karena intervensi kita.
Wait, what?!
Yep, you read that just right. Gimana maksudnya? Izinkan gue mencoba menjelaskan dengan cara paling kontekstual: apakah gue ditakdirkan untuk menerbitkan tulisan ini?
Gue menulis ini jam 9 pagi. Kalau dibandingkan dengan jam 4 tadi pagi waktu gue bangun tidur, maka sekarang adalah masa depan. Tadi pagi gue sama sekali nggak kepikiran akan membuka blog dan nulis ini. Tapi, karena gue ngeliat Twit si teman, gue jadi kepikiran untuk bercerita panjang lebar tentang penjabarannya. Alhasil, dimulailah tulisan ini. Lantas, apakah tulisan ini akan selesai? Semoga saja! Karena itu adalah masa depan yang belum kejadian. Tapi, kalau nantinya tulisan ini selesai, cukup valid untuk gue mengatakan bahwa di masa depan gue "ditakdirkan" untuk mem-posting tulisan ini.
Sekarang status gue adalah seorang pegawai di salah satu kementerian pusat. Apakah gue ditakdirkan untuk bekerja di sini? Mari coba dibedah. Sebelum kerja di sini, gue nganggur setengah tahun setelah proyek gue di kantor sebelumnya selesai. Lalu, di tengah usaha mencari kerja ke sana-sini, gue memutuskan untuk cerita sama beberapa teman sekaligus berpesan, "Eh, kalo ada info lowongan kabarin, ya!"
Sekadar informasi, kalimat seperti itu nggak mudah untuk gue ucapkan. Seakrab-akrabnya gue sama slogan "Manusia adalah makhluk sosial" selama SD dulu, gue masih sering sungkan untuk meminta pertolongan sama orang lain. Apalagi, kalau pertolongan itu bersifat pribadi demi kemaslahatan hidup gue seorang. Jadi, sampai pada titik gue akhirnya bisa mengucapkan itu sesungguhnya adalah hasil usaha yang cukup berasa. Usaha meluruhkan ego, usaha mengesampingkan rasa malu, usaha ngilangin gengsi. (Kayanya ini salah satu momen pertama gue sadar ngilangin gengsi tu butuh pembiasaan)
Ndilalah, kantor salah satu dari teman yang gue kabari punya lowongan yang amat sesuai dengan latar belakang pendidikan gue. Lalu, dipanggil lah gue ke sebuah sesi wawancara, lalu sisanya adalah cerita yang masih berlangsung sampai sekarang. "Sekarang" adalah masa depan gue yang sedang berlangsung sejak masa pencarian kerja.
Bekerja di salah satu instansi pemerintah pusat pernah menjadi cita-cita gue semasa kuliah, karena gue sering sesumbar bahwa gue dididik untuk menjadi seorang birokrat. Lalu, gue mendapati ketertarikan sendiri dalam bidang penyelenggaraan negara. Khayalan gue saat itu, kayaknya enak ya kalau gue kerja di tempat yang bisa membawa peran langsung ke masyarakat. Saat itu adalah enam atau barangkali tujuh tahun lalu. Saat itu, gue nggak kepikiran kalau tujuh tahun kemudian—di masa depan—gue betul-betul ngurusi penyelenggaraan negarawalaupun sekadar jadi kroco mumet.
See, berbagai hal yang terjadi di hidup gue masa sekarang terlalu banyak diintervensi oleh apa yang gue lakukan di masa lalu. Kalau aja setahun lalu gue nggak mengalahkan diri gue untuk nyebar pengumuman bahwa gue butuh pekerjaan, mungkin gue nggak ada di sini. Kalau aja gue nggak pernah bercita-cita untuk bekerja di salah satu instansi pemerintah, mungkin gue nggak akan interested sama kesempatan ini sejak awal. Kalau aja gue milih Ilmu Politik sebagai jurusan kuliah yang gue pilih ketika seleksi SNMPTN Tulis tahun 2012 lalu, mungkin gue nggak kerja untuk instansi ini sekarang.
Poin yang ingin gue sampaikan dari tulisan ini sebetulnya adalah bahwa bagi gue masa depan itu ada clue-nya, yaitu seberapa gue bisa berkembang dan meningkatkan kapasitas dari apapun yang gue lakukan sekarang. Di usia segini, masa depan itu ada tiga persimpangan: lurus, nanjak, atau turun. Semuanya butuh energi yang berbeda-beda untuk ditempuh.
Akhirnya, kalau aja gue nggak berniat membuat tulisan ini setelah gue membaca Twit si teman, mungkin tulisan ini nggak akan pernah ada. By the way, sekarang jam 6 ketika gue menyelesaikan tulisan ini. Berarti, ada jeda sembilan jam sejak pertama kali gue mulai nulis ini. Kalo nggak sadar, tiap jam yang berlalu dari pertama kali gue mulai tulisan ini adalah masa depan juga, dan gue tau di masa depan gue akan menerbitkan tulisan ini seberapa lama pun tertundanya.
Tapi kalau kalimat itu ditujukan ke gue, pasti gue akan terlibat percakapan yang oke dengan dia—setidaknya bagi gue. Mungkin karena satu kalimat itu bisa membawa gue kembali cukup jauh ke masa lalu, dan berakhir dengan gue menceritakan apa saja yang sudah gue alami. Paradoks tentang masa lalu: cerita-cerita tentangnya membangkitkan perasaan senang yang dulu kita alami, sekaligus sedih karena well, it is in the past.
Surrender. Menurut gue itu satu-satunya clue tentang masa depan yang harus kita imani. Ey, gue nggak sedang bicara tentang iman tertentu ya.
Menurut gue banyak orang yang kecele atas pikirannya sendiri. Banyak yang mikir bahwa masa depan sudah ada di sana, menanti kita menjemput seiring dengan waktu yang terus melaju. Seolah-olah kita—bersama dengan waktu—sedang berjalan ke tujuan. Padahal, nggak gitu. Masa depan juga adalah sesuatu yang dinamis. Dia nggak nunggu untuk terjadi, tapi terjadi karena intervensi kita.
Wait, what?!
Yep, you read that just right. Gimana maksudnya? Izinkan gue mencoba menjelaskan dengan cara paling kontekstual: apakah gue ditakdirkan untuk menerbitkan tulisan ini?
Gue menulis ini jam 9 pagi. Kalau dibandingkan dengan jam 4 tadi pagi waktu gue bangun tidur, maka sekarang adalah masa depan. Tadi pagi gue sama sekali nggak kepikiran akan membuka blog dan nulis ini. Tapi, karena gue ngeliat Twit si teman, gue jadi kepikiran untuk bercerita panjang lebar tentang penjabarannya. Alhasil, dimulailah tulisan ini. Lantas, apakah tulisan ini akan selesai? Semoga saja! Karena itu adalah masa depan yang belum kejadian. Tapi, kalau nantinya tulisan ini selesai, cukup valid untuk gue mengatakan bahwa di masa depan gue "ditakdirkan" untuk mem-posting tulisan ini.
Sekarang status gue adalah seorang pegawai di salah satu kementerian pusat. Apakah gue ditakdirkan untuk bekerja di sini? Mari coba dibedah. Sebelum kerja di sini, gue nganggur setengah tahun setelah proyek gue di kantor sebelumnya selesai. Lalu, di tengah usaha mencari kerja ke sana-sini, gue memutuskan untuk cerita sama beberapa teman sekaligus berpesan, "Eh, kalo ada info lowongan kabarin, ya!"
Sekadar informasi, kalimat seperti itu nggak mudah untuk gue ucapkan. Seakrab-akrabnya gue sama slogan "Manusia adalah makhluk sosial" selama SD dulu, gue masih sering sungkan untuk meminta pertolongan sama orang lain. Apalagi, kalau pertolongan itu bersifat pribadi demi kemaslahatan hidup gue seorang. Jadi, sampai pada titik gue akhirnya bisa mengucapkan itu sesungguhnya adalah hasil usaha yang cukup berasa. Usaha meluruhkan ego, usaha mengesampingkan rasa malu, usaha ngilangin gengsi. (Kayanya ini salah satu momen pertama gue sadar ngilangin gengsi tu butuh pembiasaan)
Ndilalah, kantor salah satu dari teman yang gue kabari punya lowongan yang amat sesuai dengan latar belakang pendidikan gue. Lalu, dipanggil lah gue ke sebuah sesi wawancara, lalu sisanya adalah cerita yang masih berlangsung sampai sekarang. "Sekarang" adalah masa depan gue yang sedang berlangsung sejak masa pencarian kerja.
Bekerja di salah satu instansi pemerintah pusat pernah menjadi cita-cita gue semasa kuliah, karena gue sering sesumbar bahwa gue dididik untuk menjadi seorang birokrat. Lalu, gue mendapati ketertarikan sendiri dalam bidang penyelenggaraan negara. Khayalan gue saat itu, kayaknya enak ya kalau gue kerja di tempat yang bisa membawa peran langsung ke masyarakat. Saat itu adalah enam atau barangkali tujuh tahun lalu. Saat itu, gue nggak kepikiran kalau tujuh tahun kemudian—di masa depan—gue betul-betul ngurusi penyelenggaraan negara
See, berbagai hal yang terjadi di hidup gue masa sekarang terlalu banyak diintervensi oleh apa yang gue lakukan di masa lalu. Kalau aja setahun lalu gue nggak mengalahkan diri gue untuk nyebar pengumuman bahwa gue butuh pekerjaan, mungkin gue nggak ada di sini. Kalau aja gue nggak pernah bercita-cita untuk bekerja di salah satu instansi pemerintah, mungkin gue nggak akan interested sama kesempatan ini sejak awal. Kalau aja gue milih Ilmu Politik sebagai jurusan kuliah yang gue pilih ketika seleksi SNMPTN Tulis tahun 2012 lalu, mungkin gue nggak kerja untuk instansi ini sekarang.
Poin yang ingin gue sampaikan dari tulisan ini sebetulnya adalah bahwa bagi gue masa depan itu ada clue-nya, yaitu seberapa gue bisa berkembang dan meningkatkan kapasitas dari apapun yang gue lakukan sekarang. Di usia segini, masa depan itu ada tiga persimpangan: lurus, nanjak, atau turun. Semuanya butuh energi yang berbeda-beda untuk ditempuh.
Akhirnya, kalau aja gue nggak berniat membuat tulisan ini setelah gue membaca Twit si teman, mungkin tulisan ini nggak akan pernah ada. By the way, sekarang jam 6 ketika gue menyelesaikan tulisan ini. Berarti, ada jeda sembilan jam sejak pertama kali gue mulai nulis ini. Kalo nggak sadar, tiap jam yang berlalu dari pertama kali gue mulai tulisan ini adalah masa depan juga, dan gue tau di masa depan gue akan menerbitkan tulisan ini seberapa lama pun tertundanya.
![]() |
| Twit si teman yang menginspirasi tulisan ini. Demi kemaslahatan pertemanan, harus disensor~ |

Comments
Post a Comment