Skip to main content

Tentang Lidah

Beberapa dari kita lebih sering memilih memendam rapat-rapat apapun yang kita rasakan alih-alih menceritakannya pada orang lain, bukan karena kita enggan bercerita, bukan pula karena kita tidak percaya, tetapi mungkin karena kita sudah kadung nyaman merasakannya sendiri dan jika terpaksa harus menceritakannya ke orang lain, kita harus siap bahwa itu bukan lagi hanya milik kita, itu juga adalah milik orang lain walaupun mereka tidak turut merasa yang kita rasa.

Beberapa dari kita lebih sering memilih untuk menyimpan yang kita pikir hanya kita yang dapat mengerti dan tidak usahlah bercerita pada orang lain, bukan karena kita malas bersosialisasi atau sekadar memulai interaksi, tapi karena kita telanjur nyaman dengan berbagai imajinasi yang kita rangkai sendiri di dalam alam pikir tanpa perlu repot membuat interpretasi dalam kata-kata, yang kadang justru salah dimengerti dan menghancurkan imajinasi-imajinasi yang telah dengan susah payah kita bentuk.

Karena kita tahu, batas antara khayalan dan kenyataan hanyalah setebal daging di dalam rongga mulut yang bernama lidah, bahwa apapun yang meluncur darinya adalah sabda yang harus berwujud nyata, harus tercermin setidak-tidaknya dari laku kita atau pun tuturan kata-kata.

Sedang di antara khayalan dan kenyataan itu terdapat jurang yang luar biasa dalam.


Kediri, 20 Juli 2019
Ketika batas antara fana dan nyata itu mendadak mencuat ke permukaan,
Terlalu tiba-tiba bahkan nama tempat malam itu pun
Tidak mampu terekam dalam ingatan

Comments